- Divisi Lingkungan Hidup: Kajian Ekologi dan Sosial Budaya
Divisi lingkungan hidup melaksanakan dua agenda utama. Pertama, penelitian bifolarank untuk mengidentifikasi persebaran serangga tanah sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan jati yang kering. Kegiatan ini melatih anggota dalam metode observasi dan pencatatan data lapangan.
Kedua, kajian sosial pedesaan (sosped). Anggota melakukan interaksi dengan masyarakat Desa Kuta guna memahami struktur sosial, budaya, dan kearifan lokal dalam mengelola lahan jati. Pemahaman ini penting sebagai dasar etika ketika beraktivitas di wilayah masyarakat.
- Divisi Gunung Hutan: Penguatan Kemampuan Navigasi Darat
Divisi gunung hutan mempraktikkan teknik navigasi darat yang meliputi man to man, resection, dan intersection menggunakan peta topografi, Kompas, protaktor dan alat pembantu lainnya. Kontur kering dan vegetasi jati yang relatif homogen menjadi tantangan tersendiri dalam menentukan titik orientasi. Latihan ini bertujuan mengasah kemampuan membaca medan tanpa bergantung pada teknologi GPS. Pendampingan mentor memastikan setiap praktik dijalankan dengan benar.
- Divisi Rock Climbing: Penerapan Teknik Panjat Tebing
Divisi rock climbing melakukan praktik pemanjatan tebing dengan menerapkan teknik leading, toping out, serta sistem penambatan. Karakter batuan kapur di area tersebut turut menjadi bahan pembelajaran bagi anggota terkait pemilihan jalur dan penempatan pengaman. Seluruh kegiatan menekankan pada aspek keselamatan, penggunaan alat, dan kerja sama tim.
Evaluasi dan Kebersamaan di Tengah Hujan
Memasuki sore hari, hujan turun saat semua divisi telah menyelesaikan tugasnya masing-masing. Seluruh peserta diarahkan menuju titik kumpul yang telah disepakati sebelumnya untuk mendirikan tenda darurat. Momen ini dimanfaatkan untuk memasak bersama dan melakukan evaluasi kegiatan. Setiap anggota diminta untuk menceritakan kegiatan seharian penuh entah itu kesan pesan ataupun yang lainnya. Kemudian mentor memberikan umpan balik terkait capaian dan hal-hal yang perlu diperbaiki dari pelaksanaan kegiatan mabim dan masing-masing divisi. Suasana kebersamaan tetap terjaga meskipun di tengah keterbatasan cuaca. Setelah hujan reda menjelang waktu Isya, kegiatan diakhiri dengan pembongkaran tenda dan pembersihan area. Seluruh peserta kembali dengan membawa pengalaman serta pemahaman baru.
Refleksi Kegiatan
MABIM GEMALAWA 2026 menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan pecinta alam sangat luas. Tidak hanya terkait fisik dan petualangan, tetapi juga mencakup penelitian lingkungan, pemahaman sosial budaya, penguasaan teknik navigasi, dan manajemen risiko pemanjatan. Alam tidak dapat dihadapi hanya dengan kekuatan, melainkan membutuhkan ilmu pengetahuan, kepekaan sosial, dan solidaritas tim. GEMALAWA: Belajar, Berproses, Bersama Alam.