Ekspedisi ini menantang batas kemampuan tim dengan menjelajahi dua medan sekaligus: Gunung Sindoro (3.153 mdpl) via Sigedang dan Gunung Bismo via Sikunang, Wonosobo. Tiga rimbawan muda perempuan yang tangguh bertindak sekaligus sebagai peserta dan panitia dalam kegiatan ini, yaitu Cotel, Eyeg, dan Abror.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pembukaan dan pemberangkatan dari kampus 2 UIN Pekalongan pada Kamis, 28 Mei pukul 11.10 WIB sebelum tim bergerak menuju Basecamp Sindoro via Sigedang untuk registrasi dan istirahat.
Pada hari kedua, pendakian Gunung Sindoro dimulai. Sambil mendaki, tim mempraktikkan navigasi darat serta pendataan zoologi dan botani (zolbot) di sepanjang jalur. Beban carrier yang berat dan jalur yang terjal sempat memancing keluhan dari para peserta di sepanjang jalur pendakian. Namun, di situlah letak esensi penempaan jiwa; setelah berjibaku melawan rasa lelah dan ego diri, keluhan itu bweubah menjadi semangat. Saat hari mulai sore pukul 17.30 WIB, tim mendirikan bivak menggunakan fly sheet untuk bermalam di tengah keheningan gunung.
Keesokan harinya, Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 12.05 WIB, ketiga anggota muda ini sukses melakukan summit di Puncak Gunung Sindoro dengan rasa haru dan bangga. Setelah dari puncak, perjalanan turun dilakukan tanpa aplikasi materi navigasi maupun zolbot demi efisiensi waktu pergerakan menuju basecamp. Sesampainya di bawah, tim bermalam di Basecamp Sindoro via Sigedang sambil mempraktikkan materi pengembunan.
Setelah itu tim melanjutkan pendakian ke Gunung Bismo pada Minggu, 31 Mei 2026. Saat mendaki, tim kembali mengaplikasikan materi navigasi darat serta pendataan zolbot. Tim berhasil mencapai Puncak Tugel. Setelah summit, tim melakukan perjalanan turun sambil mempraktikkan materi survival, meliputi pembuatan perapian dan signaling asap, serta teknik filtrasi air bersih di samping sungai pada sebelum akhirnya tiba di basecamp.
Dari pelaksanaan kegiatan ini, data penting yang berhasil didapatkan adalah pendataan zolbot di sepanjang jalur pendakian serta pengaplikasian navigasi darat yang menghasilkan pemetaan jalur, yang kemudian diolah menjadi visualisasi jalur digital. Seluruh rangkaian lapangan resmi berakhir pada Senin, 1 Juni 2026.
Pendidikan spesialisasi ini menegaskan bahwa esensi pecinta alam bukan sekadar menaklukkan puncak tertinggi. Proses belajar, keberanian menerjang rintangan, dan solidaritas kelompok adalah pencapaian yang sesungguhnya.